Laman

Tampilkan postingan dengan label Gafatar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gafatar. Tampilkan semua postingan

"Kalimantan itu Milik Dayak!" Tegas Drs. Cornelis, MH

Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH memberikan keterangan Pers kepada Media Cetak dan elektronik terkait proses evakuasi Anggota GAFATAR dari Kelimantan Barat, di Pontianak, Rabu (27/1/2016).

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH menghimbau kepada Kepala Desa, Camat, dan Bupati serta Walikota agar menjalankan undang-undang kependudukan terutama proses administrasi pindahnya seseorang ke wilayah tertentu di Kalimantan Barat, sehingga seseorang atau kelompok orang yang pindah benar-benar jelas status dan latar belakangnya.

“Kita mengimbau kepada Pemerintah Desa sampai Kabupaten/kota jika mengurus perpindahan penduduk ke Kalimantan Barat harus sesuai dengan Undang-Undang Kependudukan yakni UU nomor 24 Tahun 2013. Nah, di situ ada prosedur mengatur bagaimana seseorang atau keluarga itu kalau masuk ke wilayah lain, misalnya dari Jawa ke Kalbar itu ada aturan mainnya, harus melalui kroscek ke daerah asalnya,” ujar Cornelis, usai memimpin Rapat Koordinasi bersama Kepala Desa, Camat, Bupati dan Walikota se Kalimantan Barat di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (27/1/2016).

Hal ini menurut Cornelis, mengantisipasi stabilitas keamanan di Kalimantan Barat dengan datangnya penduduk yang baru namun menyimpang dari aturan-aturan sosial kemasyarakatan yang ada dan bahkan mengancam ideologi negara.

Cornelis menegaskan harus ada antisipasi bagi penyimpangan terhadap aturan kependudukan yang sudah ada, masyarakat yang baru datang begitu mudah tanpa proses, dan kroscek ke daerah asal, namun dikeluarkan identitas baru di Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat menurut Cornelis, saat ini menjadi incaran seluruh masyarakat dunia karena transportasi sudah lancar, hasil alam yang menjanjikan untuk kebutuhan hidup, dan akses dari berbagai penjuru mudah. “Apalagi masyarakat Kalimantan Barat sendiri dengan begitu mudah menjual tanahnya, dan begitu ramah menerima orang yang tidak dikenal sekalipun. Dirinya tidak melarang siapapun datang ke Kalbar, namun orang yang benar-benar mau hidup, bukan membawa ideologi diluar Pancasila,’ tukasnya.
=============================

Terkait GAFATAR, mantan Bupati Landak itu meminta seluruh pemimpin wilayah di Kalimantan Barat baik itu Kepala Desa sampai Bupati dan Walikota untuk mengecek kembali wilayahnya, apakah masih ada anggota organisasi yang belakangan membuat heboh publik itu. “Kita minta Kepala Desa, Camat, Lurah mengecek kembali ke daerah asalnya, kalau memang dia (seseorang) pindah, jika ragu-ragu jangan diterima dan segera dievakuasi, jika datang lagi namun tidak sesuai aturan kependudukan maka dipulangkan lagi,” ujar Cornelis.

Terkait adanya isu bahwa Gafatar akan membuat negara dalam negara, Cornelis mengatakan bahwa dokumen-dokumennya sudah diserahkan kepada aparat berwenang, Cornelis menyarankan kepada wartawan untuk langsung mengecek kepada instansi berwenang. Jikapun ada petisi Gafatar mau menggugat, Cornelis mengaku siap, karena dirinya menjalankan tugas sesuai undang-undang dan mempertahankan hak dan kedaulatan masyarakat Kalimantan Barat.

“Kalimantan itu milik Dayak, kita bergabung Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 dan secara resmi lima tahun setelahnya karena bargaining Ideologi Pancasila dengan Presiden Sukarno. Kita masing-masing sudah punya pulau, tapi karena sudah bergabung dengan negara Indonesia siapapun boleh bertempat tinggal di sini tapi aturan kependudukan dipatuhi dan harus tertib hukum, jangan semaunya sendiri, ” tegas Cornelis.

Seperti diberitakan sebelumnya, Anggota Gafatar yang berhasil diidentifikasi telah dievakuasi ke daerah asal mereka menggunakan Kapal TNI AL, Pesawat Terbang, mencapai ribuan orang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Pemulangan dengan pembiayaan dari Anggaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang mencapai Rp.5 miliar.

_________________________________________ 

sumberinfo; okezone..com, liputan6..com, cnnindonesia..com 

Gafatar: Jika kami menganut ajaran sesat, sesatnya dimana?

Baru satu bulan merantau di Melawi, Kalimantan Barat, Melki (37) dipaksa kembali ke Jakarta oleh kepolisian setempat. Dia bersama sang istri hanya tahu alasan dipulangkan demi keamanan.

"Saya dan istri langsung berangkat ke Pontianak, Kamis (21/1). Sabtu (23/1) terbang dari Pontianak ke Jakarta. Rumah kontrakan, surat-surat berharga, dan barang-barang lainnya saya tinggalkan begitu saja," cerita Melki kepada wartawan, Senin (25/1).

Melki ikut bergabung dalam kelompok Gafatar antara tahun 2012-2013. Sebelum hijrah ke Kalimantan, dia merantau di Kepulauan Riau. Dia mengaku tak tahu dari mana polisi tahu bahwa dirinya tergabung dalam kelompok Gafatar.

"Kami tidak tahu bagaimana mereka bisa tahu kami ada hubungan sama Gafatar. Kalau memang kami sesat, sesatnya di mana? Saya sholat, puasa, dan mengaji," tutur Melki.

Sejumlah aset barang-barang jualnya (spare part) ditinggalkannya di Melawi. Selain itu lebih dari Rp 1 miliar asetnya disita dan tidak tahu keberadaannya.

"Kami di sana hanya bertani dan berjualan. Tapi kami ditindas. Sekarang kami sudah tidak punya apa-apa, baju hanya sehelai di badan. Kalau begini, siapa yang akan bertanggung jawab?" keluh Melki.

Saat ini, Melki dan keluarganya ditampung di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Daya Guna 2, Ceger, Cipayung Jakarta Timur. Rencananya para eks Gafatar ini akan dikembalikan ke daerah asalnya sebelum hijrah ke Kalimantan. Namun, hingga saat ini belum diketahui secara jelas sampai kapan mereka akan ditampung di sini.

---------------------------------------

---------------------------------------

Suswati (54) dan suaminya, Subur Wibowo (58), hanya bisa pasrah merenungi nasibnya harus menjalani pendampingan selama beberapa hari di Wisma Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Bayang-bayang tragedi pembakaran kampung di Mempah, Kalimantan Barat, masih terbayang jelas dalam ingatannya.

Dia merangkai kembali penggalan kisah hidupnya saat harus menjual rumah seluas 48 meter persegi untuk bekal hijrah ke Kalimantan. Di sana dia sudah dijanjikan lahan kosong untuk bertani oleh Mahful Muis, pengurus Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Mahful diketahui memiliki 4,2 hektar lahan di Kalimantan. Empat bulan lalu, berangkatlah Suswati dan suami serta anaknya ke Kalimantan. Uang hasil jual rumah di Jakarta digunakan untuk mengontrak dua rumah dan sewa lahan bertani di Kalimantan.

"Di sana kami hanya bercocok tanam. Pergi ke ladang, bertani awalnya hasilnya lumayan. Menanam jagung, menanam padi. Kami sempat panen jagung selama dua kali dalam empat bulan terakhir," ujar Suswati di Wisma Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (25/1).

Tragedi tak diinginkan terjadi pada 19 Januari 2016. Sejumlah warga mengusir mereka yang dianggap bekas anggota Gafatar. Tidak hanya itu, rumah mereka juga dibakar. Termasuk Suswati yang harus terusir meski rumahnya jauh dari perkampungan mantan anggota Gafatar.

"Saya kaget ada ratusan warga sana dan ratusan polisi datang. Kami disuruh untuk meninggalkan rumah kontrakan dan lahan pertanian kami," ucapnya dengan wajah sedih.

Dia mengetahui bahwa penyebabnya adalah organisasi Gafatar dianggap menyebarkan ajaran sesat. Terlebih, banyak orang meninggalkan rumah setelah gabung dengan organisasi tersebut. Suswati tidak tahu menahu soal Gafatar. Namun dia menepis semua anggapan yang menyebutkan bahwa Gafatar menyebarkan ajaran sesat.

"Tidak betul kalau kami melakukan ajaran sesat. Tidak betul kami dituding beragama silam tapi kami tidak sholat. Tidak pernah lagi kami menganggap bahwa Muhammad Musadeq adalah nabi kami yang terakhir," ungkapnya.

Suswati bersama suaminya dan anak semata wayangnya, Udji Ardiyanto (18) mau tidak mau harus angkat kaki dari Mempawah dan ikut pindah bersama eks anggota Gafatar lainnya. Dia mengaku diancam jika tidak angkat kaki.

"Padahal, tetangga saya yang asli Kalimantan sana malah menangis saat saya pamit. Sampai tetangga saya bilang sambil menangis waktu saya mau meninggalkan rumah dan tanah garapan 'Bude salahnya apa sih cuma ingin bertani kok disalahkan, diusir," kata Suswati menirukan ungkapan tetangganya. 

Dia tidak habis pikir masih diburu banyak orang, padahal Gafatar sudah dibubarkan sejak tahun lalu. Kini Suswati bersama suami dan anaknya harus menjalani pendampingan dan penyadaran sebelum dikembalikan ke keluarganya yang saat ini tinggal di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. 


Sumber: Merdeka.com

"Transmigrasi - Gafatar" di Tanah Dayak

Sejak tahun 2013, ribuan pengikut GAFATAR sudah masuk ke KALIMANTAN secara Diam diam. Tanpa seorangpun yang menyadarinya, DICATAT!
Apa motivasinya? Katanya; bertani. Bertani? Motivasi yang sederhana. Akan tetapi, masuk akalkah? Tidak!
Tanah di pulau Kalimantan tidak cukup subur utk ekspansi dan intensifikasi pertanian, apalagi program nasional KETAHANAN PANGAN. sebagian besar rakyat Kalimantan hari ini bahkan cukup puas dan tergantung dengan BERAS MISKIN yang diimpor Perum BULOG dari Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos atau bahkan Singapura.

Terus, alasan lain karena miskin di negeri asal. Emang nya rakyat Kalimantan ini kaya? Fakta, hari ini banyak kabupaten di Kalimantan ini masih statusnya termiskin. Rakyatnya juga miskin! Apakah ingin menambah penduduk miskin di Kalimantan? Motivasi terselubung, pasti!
Indikatornya? Kalimantan ini pulau yang amat luas, penduduknya ±10 juta jiwa tersebar di 5 provinsi. Alamnya sangat kaya, semuanya ada di pulau ini. Minyak, gas, tambang mineral, dan bahkan komoditi internasional.

Banyak diisukan semua kekayaan alam ini belum tergarap karena Tenaga kerja lokal tidak terampil, pengetahuan yang masih kurang, dll. Karena itu, isunya GAFATAR adalah lapangan pekerjaan. Penguasaan lapangan kerja dan penguasaan sumber daya alam di Kalimantan!

Bahkan tahun 2014 pemerintah pusat akan mengirim 4 juta penduduk baru ke Kalimantan melalui proyek TRANSMIGRASI, dan 6.000 KK prajurit TNI AD di sepanjang perbatasan Kalimantan malaysia. Ini tentu berkaitan bila ditinjau dari teori konspirasi. Targetnya, penguasaan politik lokal di Kalimantan. Pilkada serentak 2015, 2017, Pemilu presiden 2019, dan pemilu legislatif 2019, dan klimaks PILKADA serentak 2025!!!

Fakta adalah:
A. 20% penduduk di Kalimantan Barat berasal dari pulau Jawa, dan Kalbar target ring 1.
B. 30% penduduk di Kalimantan Tengah berasal dari pulau jawa, dan kalteng target ring 2.
C. 40% penduduk di Kalimantan timur dan utara berasal dari pulau jawa, dan kaltim dan kaltara target ring 3.
Tahun 2025, semua provinsi target 65%! Inilah mega proyek Indonesianisasi legal di Pulau Kalimantan.
--------------------------------

Tentang Pembangunan (Ekonomi & Infratruktur) Pemerintah Pusat tidak pernah serius untuk membangun & memajukan Kalimantan.
Kalimantan masih mayoritas belum merasakan Merdeka yang sebenarnya.
Secara khusus pembangunan sarana prasarana masyarakat Kalimantan sangat tertinggal.
Namun PemPus terus menerus memasok/mengirim orang dari luar pulau Kalimantan melalui kedok Transmigrasi besar-besaran. Berawal dari kePresidenan Soeharto hingga 2015 Kalimantan selalu menjadi target transmigrasi.

Apa sebenarnya Tujuan positif dari transmigrasi? atau itu bertujuan mengkudeta masyarakat asli Kalimantan?
PemPus tidak pernah/sangat minim  memberikan bantuan kepada warga asli. Tetapi begitu pedulinya kepada Orang-orang yang mereka kirim, diberikan; tanah-rumah-modal usaha-& fasilitas lainnya. tetapi adakah hal itu diberikan kepada warga asli? Mungkin ada, tapi seberapa banyak (kepala keluarga)?
Bandingkan dengan para Trans, berapa total mereka sampai tahun 2016 ini, dan setiap kepala keluarga mendapatkannya (bantuan) nyata dari pemPus.

Hutan Kalimantan sekarang menjadi Perkebunan besar-besaran, menjadi tempat pemukiman trans, dll. Tanah & Hutan Adat Dayak semakin mengecil, sumber penghidupan warga asli pun ikut menipis. Karena Dayak hidup berdampingan dengan alam, alam dijaga karena alam sumber makanan yang berlimpah.

*Apa yang akan terjadi dengan Kalimantan 50 tahun kedepan?
*Apa yang akan terjadi dengan warga asli kalimantan puluhan tahun kelak?
--------------------------------

STOP!!! TRANSMIGRASI, ORMAS ANARKIS, ORMAS AGAMA ALIRAN SESAT, PEMBUKAAN LAHAN PERKEBUNAN (PT).
---------------------------------

MARI JAGA! TANAH ADAT, TANAH LELUHUR, HUTAN KALIMANTAN.

Gafatar "Alasan Pilih Kalimantan"

Satu di antara warga eks Gafatar, Narko berharap masih bisa kembali ke Mempawah untuk mengambil harta bendanya yang tak sempat dibawa serta saat proses evakuasi dilakukan pada Selasa (19/1/2016) kemarin.

Warga asal Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojekerto, Provinsi Jawa Timur ini mengatakan ia tak sempat membawa satu unit sepada motor dan beberapa lemari plastik serta kasur yang dibelinya saat tiba di Kabupaten Mempawah, Desember 2015 silam.

"Saya harap bisa kembali ke Mempawah dengan bantuan polisi atau TNI agar kami bisa mengambil barang-barang kami di sana. Barangkali nanti akan kami jual untuk tambahan bekal pulang," ujarnya saat di jumpai Tribunpontianak.co.id di tenda darurat yang dibangun di halaman Bekangdam XII/Tpr, Kubu Raya, Kamis (20/1/2016).

Meski masih memiliki rumah di Mojokerto, Narko berharap tetap bisa diterima di Kalbar. Dia ingin melanjutkan proses pengembangan pertanian untuk bersama pemerintah mewujudkan kemandirian pangan.
Saat di singgung apa alasan dipilihnya Kalimantan sebagai lokasi untuk pengembagan pertanian, Narko menjelaskan bahwa Kalbar tidak memiliki gunung berapi dan relatif aman dari ancaman bencana alam seperti gempa dan tsunami.

Hal yang sama juga di sampaikan oleh Doni, warga Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta. Doni membaa istrinya, Nurul Fitira dan anaknya Andromeda yang baru berusia genap tiga bulan.
Sesaat setelah tiba di lokasi Bekangdam XII/Tpr, Andromeda hanya tidur di tempat tidur darurat tentara di dalam tenda darurat yang disiapkan oleh Kodam XII/Tpr.
"Alhamdulillah sehat saja, saya selimuti anak saya dengan selimut karena cuacanya dingin dan banyak nyamuk," katanya

Doni mengatakan, dia juga tidak mengkehendaki pulang kampung ke Bantul. Dia benar-benar ingin mengembangkan pertanian di Mempawah karena melihat potensinya yang cukup besar karena tanahnya cukup subur.

Sumber: tribunnews