Laman

Tampilkan postingan dengan label Mempawah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mempawah. Tampilkan semua postingan

Gafatar: Jika kami menganut ajaran sesat, sesatnya dimana?

Baru satu bulan merantau di Melawi, Kalimantan Barat, Melki (37) dipaksa kembali ke Jakarta oleh kepolisian setempat. Dia bersama sang istri hanya tahu alasan dipulangkan demi keamanan.

"Saya dan istri langsung berangkat ke Pontianak, Kamis (21/1). Sabtu (23/1) terbang dari Pontianak ke Jakarta. Rumah kontrakan, surat-surat berharga, dan barang-barang lainnya saya tinggalkan begitu saja," cerita Melki kepada wartawan, Senin (25/1).

Melki ikut bergabung dalam kelompok Gafatar antara tahun 2012-2013. Sebelum hijrah ke Kalimantan, dia merantau di Kepulauan Riau. Dia mengaku tak tahu dari mana polisi tahu bahwa dirinya tergabung dalam kelompok Gafatar.

"Kami tidak tahu bagaimana mereka bisa tahu kami ada hubungan sama Gafatar. Kalau memang kami sesat, sesatnya di mana? Saya sholat, puasa, dan mengaji," tutur Melki.

Sejumlah aset barang-barang jualnya (spare part) ditinggalkannya di Melawi. Selain itu lebih dari Rp 1 miliar asetnya disita dan tidak tahu keberadaannya.

"Kami di sana hanya bertani dan berjualan. Tapi kami ditindas. Sekarang kami sudah tidak punya apa-apa, baju hanya sehelai di badan. Kalau begini, siapa yang akan bertanggung jawab?" keluh Melki.

Saat ini, Melki dan keluarganya ditampung di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Daya Guna 2, Ceger, Cipayung Jakarta Timur. Rencananya para eks Gafatar ini akan dikembalikan ke daerah asalnya sebelum hijrah ke Kalimantan. Namun, hingga saat ini belum diketahui secara jelas sampai kapan mereka akan ditampung di sini.

---------------------------------------

---------------------------------------

Suswati (54) dan suaminya, Subur Wibowo (58), hanya bisa pasrah merenungi nasibnya harus menjalani pendampingan selama beberapa hari di Wisma Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Bayang-bayang tragedi pembakaran kampung di Mempah, Kalimantan Barat, masih terbayang jelas dalam ingatannya.

Dia merangkai kembali penggalan kisah hidupnya saat harus menjual rumah seluas 48 meter persegi untuk bekal hijrah ke Kalimantan. Di sana dia sudah dijanjikan lahan kosong untuk bertani oleh Mahful Muis, pengurus Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Mahful diketahui memiliki 4,2 hektar lahan di Kalimantan. Empat bulan lalu, berangkatlah Suswati dan suami serta anaknya ke Kalimantan. Uang hasil jual rumah di Jakarta digunakan untuk mengontrak dua rumah dan sewa lahan bertani di Kalimantan.

"Di sana kami hanya bercocok tanam. Pergi ke ladang, bertani awalnya hasilnya lumayan. Menanam jagung, menanam padi. Kami sempat panen jagung selama dua kali dalam empat bulan terakhir," ujar Suswati di Wisma Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (25/1).

Tragedi tak diinginkan terjadi pada 19 Januari 2016. Sejumlah warga mengusir mereka yang dianggap bekas anggota Gafatar. Tidak hanya itu, rumah mereka juga dibakar. Termasuk Suswati yang harus terusir meski rumahnya jauh dari perkampungan mantan anggota Gafatar.

"Saya kaget ada ratusan warga sana dan ratusan polisi datang. Kami disuruh untuk meninggalkan rumah kontrakan dan lahan pertanian kami," ucapnya dengan wajah sedih.

Dia mengetahui bahwa penyebabnya adalah organisasi Gafatar dianggap menyebarkan ajaran sesat. Terlebih, banyak orang meninggalkan rumah setelah gabung dengan organisasi tersebut. Suswati tidak tahu menahu soal Gafatar. Namun dia menepis semua anggapan yang menyebutkan bahwa Gafatar menyebarkan ajaran sesat.

"Tidak betul kalau kami melakukan ajaran sesat. Tidak betul kami dituding beragama silam tapi kami tidak sholat. Tidak pernah lagi kami menganggap bahwa Muhammad Musadeq adalah nabi kami yang terakhir," ungkapnya.

Suswati bersama suaminya dan anak semata wayangnya, Udji Ardiyanto (18) mau tidak mau harus angkat kaki dari Mempawah dan ikut pindah bersama eks anggota Gafatar lainnya. Dia mengaku diancam jika tidak angkat kaki.

"Padahal, tetangga saya yang asli Kalimantan sana malah menangis saat saya pamit. Sampai tetangga saya bilang sambil menangis waktu saya mau meninggalkan rumah dan tanah garapan 'Bude salahnya apa sih cuma ingin bertani kok disalahkan, diusir," kata Suswati menirukan ungkapan tetangganya. 

Dia tidak habis pikir masih diburu banyak orang, padahal Gafatar sudah dibubarkan sejak tahun lalu. Kini Suswati bersama suami dan anaknya harus menjalani pendampingan dan penyadaran sebelum dikembalikan ke keluarganya yang saat ini tinggal di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. 


Sumber: Merdeka.com

Gafatar "Alasan Pilih Kalimantan"

Satu di antara warga eks Gafatar, Narko berharap masih bisa kembali ke Mempawah untuk mengambil harta bendanya yang tak sempat dibawa serta saat proses evakuasi dilakukan pada Selasa (19/1/2016) kemarin.

Warga asal Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojekerto, Provinsi Jawa Timur ini mengatakan ia tak sempat membawa satu unit sepada motor dan beberapa lemari plastik serta kasur yang dibelinya saat tiba di Kabupaten Mempawah, Desember 2015 silam.

"Saya harap bisa kembali ke Mempawah dengan bantuan polisi atau TNI agar kami bisa mengambil barang-barang kami di sana. Barangkali nanti akan kami jual untuk tambahan bekal pulang," ujarnya saat di jumpai Tribunpontianak.co.id di tenda darurat yang dibangun di halaman Bekangdam XII/Tpr, Kubu Raya, Kamis (20/1/2016).

Meski masih memiliki rumah di Mojokerto, Narko berharap tetap bisa diterima di Kalbar. Dia ingin melanjutkan proses pengembangan pertanian untuk bersama pemerintah mewujudkan kemandirian pangan.
Saat di singgung apa alasan dipilihnya Kalimantan sebagai lokasi untuk pengembagan pertanian, Narko menjelaskan bahwa Kalbar tidak memiliki gunung berapi dan relatif aman dari ancaman bencana alam seperti gempa dan tsunami.

Hal yang sama juga di sampaikan oleh Doni, warga Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta. Doni membaa istrinya, Nurul Fitira dan anaknya Andromeda yang baru berusia genap tiga bulan.
Sesaat setelah tiba di lokasi Bekangdam XII/Tpr, Andromeda hanya tidur di tempat tidur darurat tentara di dalam tenda darurat yang disiapkan oleh Kodam XII/Tpr.
"Alhamdulillah sehat saja, saya selimuti anak saya dengan selimut karena cuacanya dingin dan banyak nyamuk," katanya

Doni mengatakan, dia juga tidak mengkehendaki pulang kampung ke Bantul. Dia benar-benar ingin mengembangkan pertanian di Mempawah karena melihat potensinya yang cukup besar karena tanahnya cukup subur.

Sumber: tribunnews

Tanggapan Gubernur Kalbar tentang Pembakaran Rumah warga Eks.Gafatar

Gubernur Provinsi Kalbar, Cornelis MH, menyayangkan terjadinya pembakaran rumah dan mobil eks Gafatar di Kabupaten Mempawah. Karena dianggap lemah atau kurangnya pengontrolan yang dilakukan.

"Harusnya pengontrolan itu dilakukan dari tingkat bawah, dimana para pendatang tersebut berada. Karena lemahnya pengontrolan inilah, yang membuat tingkat emosi masyarakat menjadi memuncak hingga terjadinya pembakaran," ujar Cornelis, Rabu (20/1/2016).

Seharusnya kata Cornelis, jeli dalam melihat setiap warga pendatang baru, apalagi eks gafatar datang bukan sebagai transmigrasi. Dengan ini diharapkan, kepada jajaran pemerintah daerah baik dari tingkat bawah, sampai ke kabupaten/kota untuk segera mengecek dan mendata kembali warga pendatang yang baru datang di Kalbar. Jangan sampai lalai dalam pendataan.

"Kaitan dengan para pengungsi eks gafatar, semua telah di evakuasi dan diamankan oleh pihak keamanan bersama pemerintah,dan semua akan dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing," jelasnya.
Cornelis meminta, kepada sumua masyarakat untuk tenang, jangan terpancing atau terprovokasi dengan hal-hal yang dapat membuat suasana menjadi mencekam. "Semua harus diserahkan kepada pihak berwajib dan pemerintah," ungkapnya.


sumber: tribunnews